Langkahkan kakimu, sejauh engkau sanggup melangkah, terus..terus..dan terus...ukir jejak-jejak asa dan harapan, untuk menemuiNya di kelak nanti^^
Jumat, 11 Januari 2013
S-A-B-A-R^^
Sungguh bersabar itu memang bukan hanya sebatas mengeja 5 huruf S-A-B-A-R. Tapi, rasanya seperti mengarungi 5 abad kehidupan:)*lebay. Ishbir ukhti, ishbir, ishbir.......mungkin mudah, sering di dengar, dan sering diucapkan, dalam setiap himpit yang menyesakkan....namun, kadang sulit diaplikasikan ketika rasa sesak itu terus menyeruak. Tapi, jika kita mau menyadari, siapa pemilik hati ini, jika ketika kita tahu, 5 huruf ini pun firmanNya (....Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranMu....(Q. S. Ali Imron:200)...maka sesungguhnya pasti ada celah untuk lebih merunduk, mencari, menemukan betapa sesungguhnya akan ada kemudahan memahami arti bersabar ini.
Allah,lalu siapa kita yang masih saja sering tak menyadari bahwa Dia tak pernah menyia-nyiakan setiap pinta kita. Wa li'abdii maa sa ala (Dan pasti akan menjadi milik hambaku apapun yang ia minta kepadaKu_Hadist Qudsi).
Maka saat setiap pinta kita belum kita dapati di hadapan, mungkin karena Allah ingin kita semakin memahami arti bersabar, ingin semakin merunduk dalam berlaku, ingin semakin khusyuk dalam bertemu, ingin semakin kita yakin dalam meminta....
Sungguh, tidak ada sedikit pun yang terjadi selain karena kehendakNya,kita hanya perlu lebih sabar menanti setiap pilihan yang Allah pilihkan untuk kita, karena bukan kita siap dengan pilihan kita, tapi haruslah kita siap atas pilihan terbaikNya, untuk apapun itu.....
#semoga Allah hibahkan sabar dalam setiap langkah kita saudariQ,
special for my beloved sister GR Crew"..menanti detik bahwa Buah S_A_B_A_R itu begitu nikmat, dan akan segera kita rasakan...:)insya Allah
Ketika Ibu Masih Saja Berterimakasih Kepada Kita"
Terima kasih ibu kepada kita, adalah sepotong kata penuh makna yang menjembatani jarak zaman yang kian melebar, antara era hidup di dua zamman yang berbeda.
Terima kasih, sepotong kata yang singkat itu, merupakan akumulasi dari seluruh kerelaannya untuk menghadapi realitas, bahwa pada akhirnya kita dan ibu kita, adalah dua orang yang hidup di beda zaman, beda generasi. Itu takdir usia yang tak bisa kita hindari.
Terima kasih itu adalah ekspresi paling rumit yang tak mudah kita mengerti. Itu bentuk kepasrahan yang besar kepada jalan hidup yang diberikan Allah kepada setiap ibu. Pada akhirnya, anak-anak yang ia besarkan, cepat atau lambat, perlahan atau pasti, tidak akan bisa semua membersamainya, selamanya.
Terima kasihnya adalah rasa penerimaannya, bahwa meski akhirnya kita bukan lagi sepenuhnya dalam asuhannya, dan perasaan memilikinya tidak lagi penuh, ia merasa telah cukup mengembil bagiannya dari diri kita. Maka ia selalu berterima kasih.
Dengan segala rasa bersalah kita, juga haru, saat ibu masih saja berterimakasih kepada kita, mungkin kita masih belum sepenuhnya memasuki alam batinnya yang lebih jauh. Betapa di balik rasa terimakasih ibu, bergumul garis-garis takdirnya yang rumit. Bukan karena sebab apa-apa, tapi karena ia memang seorang ibu.
Tarbawi_edisi "Ketika Ibu Masih Saja Berterimakasih Kepada Kita"
Senin, 01 Oktober 2012
"""
Jika hari ini mendung, tetaplah tersenyum, meski gerimis mulai menghiasi, karena tak akan sepanjang zaman, yakinlah karena esok lagi pasti akan ada udara yang lebih segar,langit yang lebih cerah dan pelangi yang lebih indah^^
Selasa, 18 September 2012
Harbun#1
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;">
<a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbQnbIiHoCZcV4gpUK1E5RyMcKfqF2nYAKnK9tXY0jaRfDtqW5cbB8LxLK8pvNHfMoxrUHATpM79wAkpdw1Nfqc02bQEBaiScv-D2UuCknkroYH66v0qjCxrzPu2tqoEJp8t4cWeaCEFw/s1600/Photo0443.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbQnbIiHoCZcV4gpUK1E5RyMcKfqF2nYAKnK9tXY0jaRfDtqW5cbB8LxLK8pvNHfMoxrUHATpM79wAkpdw1Nfqc02bQEBaiScv-D2UuCknkroYH66v0qjCxrzPu2tqoEJp8t4cWeaCEFw/s320/Photo0443.jpg" width="320" /></a></div>
Beberapa bulan ni mulai berjibaku dengan ranah baru, suasana baru, aktifitas baru. Membersamai mutiara-muti
ara kecil itu. Saat aku memutuskan untuk mengambil dunia lain dari dunia yang aku geluti 5 tahun 2 bulan silam. Duani yang saat ini mengalihkan segala perhatian, kesabaran dan segalanya dariku. Anak-anak, ya Bersama mereka aku disini, menjadi sangat luar biasa harus PD atas segala kebutaanku tentang dunia anak-anak, khususnya pendidikan anak-anak. Berat, memang awalnya aku menerima dan memtuskan untuk berada bersama mereka disini, tapi atas segala pertimbangan, dengan sadar aku memilih untuk berada membersamai mereka disini. SDIT Harapan Bunda, sebuah sekolah di tengah kota purwokerto agak sedikit ke dalam gang sehingga memang sangat tidak tampak dari jejeran kota sebenarnya:)sebuah bangunan dengan status mengontrak, dengan segala yang dimilikinya disana, ustadz/ah yang luar biasa, bapak-bapak k3, ibu catering, tim BU dan admin, visi dan misi sekolah yang luar biasa, aktifitasnya, dan sejuta hal yang ada di dalamnya.
Tak lain dan tak bukan adalah yang menjadikan aku memilihnya adalah karena visi besar itu, bersama Al-Qur'an, mencetak generasi Qurani, 6 tahun 6 juz, luar biasa bukan?sedang aku, saat ini masih saja terbata-bata di dalam Al-Qalam juz 29, sedang juz 30 An-Nass-Al-Naba, entah masihkah bisa aku ingat dengan baik Astaghfirullah.....Hingga suatu saat ketika orientasi kelas, saat jadwal tes tahfidz, aku masuk sebuah ruangan, seorang ustadzah sedang mengetes, seorang murid yang Allah anugerahkan "keistimewaannya," atas segala keterbatasan yang mungkin tak sama dengan kita yang Allah anugerahkan atas segala kenormalan kita, dia membaca 2, 3, 4 bahkan mungkin sampai 5 ayat setiap suratnya, meskipun lagi-lagi tak ingat ayat berikutnya, tapi bagiku, saat itu sungguh malu, segala "keistimewaaanya" dia saja bersemangat dan mudah menghafal ayat-ayat itu, seharusnya aku bisa melebihinya..semangatnya, dan keseriusannya. Di ruangan lain, siswa kelas 3 dengan lancar mereka muroja'ah beberapa surat di juz 29, rasanya malu, umur hampir seperempat abad, tapi sungguh hanya sedikit yang sudah dihafal. Apalagi ketika melihat mereka semua siswa disana, setiap aktifitasnya, saat berlari, sepak bola, dan lainnya, ketika mendengar murotal yang diputarkan, otomatis mulut mereka komat-kamit mengikuti. Allah, semoga ada kesempatan untuk aku memperbaik semuanya dan mengejar segala ketertinggalan ini, untuk selalu mudah dekat dengan Al-Qur'an^^
Langganan:
Postingan (Atom)